Pendidikan Sains Aplikatif, Matematika Menarik dan Karya Ilmiah

Pemanfaatan Limbah Kulit Simping (Amusium pleuronectes) Sebagai Penjernih Minyak Jelantah

Banyaknya kulit simping di daerah Gresik cukup melimpah dan belum dimanfaatkan membuat siswa siswi dari MTs NU Trate Gresik Yaitu Riska Amalia Putri, Salsabella Aprilia dan M Asraf Nabil untuk melakukan penelitian memanfaatkan kulit simping ini agar menjadi lebih berguna, yaitu digunakan sebagai penjernih minyak jelantah. Berkat karya ini mereka lolos menjadi finalis di lomba karya ilmiah tingkat SMP se Jawa timur yang diadakan di SMA Hidayatus Salam Lowayu Dukun Gresik.


Proses penjernihan minyak jelantah dengan kulit simping ini diawali dengan menumbuk kulit simping yang sudah kering untuk mendapatkan potongan yang lebih kecil. Hal ini dilakukan agar mempermudah ketika dihaluskan menggunakan blender. Potongan tersebut dihaluskan menjadi serbuk menggunakan blender. Serbuk yang didapatkan disaring. Yang masih berukuran besar diblender kembali.

kulit simping yang telah lembut kemudian dijadikan kitosan dengan mencampurkan kulit simping tersbut pada larutan NaOH dengan konsentrasi 20%. Sebanyak 40 gram serbuk simping dicampurkan pada 100 mL larutan NaOH. Kemudian campuran dipanaskan pada suhu 90 – 100 oC selama 60 menit sambil diaduk. Setelah dingin campuran dicuci menggunakan air hingga netral (pH=7). Kemudian endapan yang terbentuk disaring menggunakan kertas saring dan didiamkan hingga kering. 

Untuk menguji kulit simping yang digunakan dalam penjernihan minyak jelantah ini mereka melakukan tiga pengujian, yaitu :
Pengujian A
Sebanyak 20 gram serbuk kulit simping biasa (belum diaktivasi) dimasukkan ke dalam 100 mL minyak jelantah. Campuran diaduk sambil dipanaskan pada suhu 40 – 60 oC selama 15 menit. Setelah itu campuran didiamkan hingga dingin dan mengendap, kemudian disaring menggunakan corong dan kain kaos. Hasil penyaringan akan menjadi minyak goreng.

b. Perlakuan B
Sebanyak 20 gram serbuk kulit simping yang sudah diaktivasi dimasukkan ke dalam 100 mL minyak jelantah. Selanjutnya diberi perlakuan yang sama dengan perlakuan A

c. Perlakuan C
Sebanyak 20 gram Serbuk kulit simping yang sudah teraktivasi dimasukkan pada minyak jelantah. Tanpa dilakukan pemanasan, campuran diaduk sebentar dan didiamkan hingga mengendap. Setelah mengendap campuran disaring menggunakan corong dan kain kaos.
Hasil penjernihan minyak jelantah menggunakan kulit simping dengan berbagai perlakuan dapat dilihat pada gambar berikut :



Berdasarkan hasil perlakuan diatas yang paling baik pada proses penjernihan minyak jelantah adalah perlakuan B. Yaitu kulit simping yang telah diaktivasi dan proses penjernihannya dilakukan dengan pemanasan. Ini menunjukkan bahwa perlakuan penambahan NaOH pada kulit simping telah mengubah kulit simping menjadi lebih aktif.

Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa kulit simping yang telah teraktivasi ternyata memiliki kemampuan adsorbsi lebih baik jika dipanaskan. Hal ini disebabkan karena proses adsorbsi akan dipercepat dengan proses pemanasan. Namun pemanasan tidak boleh pada suhu yang tinggi karena akan merusak kembali minyak jelantah yang telah dijernihkan. Sehingga pada penelitian ini proses pemanasan dilakukan pada suhu 50 – 60 oC

Meskipun hasil minyak goreng dari penjernihan dengan kulit simping ini belum sama dengan minyak goreng murni, minyak jelantah yang dihasilkan sudah menunjukkan karakteristik yang lebih baik dari sebelumnya. yaitu sudah mendekati karakteristik dari minyak goreng murni. dengan warna dan massa jenisnya sudah mendekati minyak goreng murni, yaitu memiliki massa jenis 0,86 gr/mL – 0,91 gr/mL. 
.

No comments:

Post a Comment